Bagaimana Memotivasi Karyawan di Era Disrupsi?

Motivasi | Bagaimana Memotivasi Karyawan di Era Disrupsi?

Motivasi | Motivator Indonesia | Training Motivasi | Pembicara Seminar

Ada kabar duka di balik gegap gempita era digital. Banyak perusahaan raksasa gulung tikar oleh serangan bisnis baru. Tak perlu saya sebut nama, anda tentu mengikuti bagaimana “online shop” menggerogoti toko-toko ritel, taksi berbasis aplikasi menggusur taksi berbasis argometer, “financial technology” menjungkirbalikkan bisnis finansial termasuk perbankan konvensional.

Sejatinya banyak yang bersuka cita dengan hadirnya model bisnis baru ini. Mereka yang bermodal cekak sangat tertolong oleh hadirnya banyak peluang bisnis bermodal jejaring. Mereka yang enggan berkantor sangat terbantu oleh banyaknya penawaran bisnis yang bisa dikerjakan dari rumah. Mereka bersyukur: semua ada dalam genggaman tangan.

Namun, nada murung datang dari pengelola bisnis besar yang sudah kadung menggurita dengan banyak cabang dan banyak tenaga kerja. Kinerja bisnis banyak tergerus oleh pola bisnis baru yang memotong jalur begitu drastis, mulai dari jalur produksi, jalur finansial, hingga jalur distribusi. Ujung-ujungnya, jika tergerus, jalur sumber daya manusia pula yang harus dipangkas. PHK jadi pilihan terakhir yang belakangan harus diambil demi mempertahankan bisnis mereka.

Sampai di sini cerita dimulai. Kabar merosotnya kinerja bisnis berembus begitu kencang. Dampak paling terasa di perusahaan adalah motivasi karyawan yang menurun. Kabar tak sedap yang beredar di luaran mau tak mau merangsek ke dalam. Apalagi semua informasi begitu mudah didapat sekarang. Hanya tunggu waktu bagaimana nasib mereka di perusahaan tersebut.

Situasi begitu tidak nyaman. Kasak-kusuk tak dapat dihindarkan. Belum tentu benar namun jika tak ditepis dengan tepat sangat membahayakan. Bagaimana membahayakannya?

Dalam ketidakpastian, karyawan bisa terbelah dalam beberapa kategori:

  1. Juru selamat. Ini karyawan yang berpikir untuk kelangsungan perusahaan. Baginya, ketidakpastian bukan untuk dipertajam. Sebaliknya, justru harus dikendalikan. Karyawan seperti ini berpikir bagaimana caranya menemukan terobosan supaya bisnis perusahaannya selamat dari badai. Ia mau berdiri di depan untuk memimpin timnya berupaya sedemikian rupa sehingga ketika bisnis perusahaannya lestari maka nasib keseluruhan karyawan juga aman.
  2. Juru cari selamat. Berbalik dengan juru selamat, karyawan jenis ini berpikir untuk dirinya sendiri. Ibarat dalam pelayaran, ketika kapal goyang oleh badai, ia yang pertama mendekap sekoci untuk memastikan dirinya tak turut karam. Ia tak berpikir orang lain. Ia tak berpikir bagaimana menyelamatkan kapal.
  3. Juru sikat. Jika jurus cari selamat berpikir untuk menyelamatkan dirinya, juru sikat selangkah lebih licik. Ia tega mengadu antarkaryawan supaya di antara mereka sendiri terjadi pertikaian. Saat pertikaian itu terjadi, maka karam atau selamat perusahaan nanti, ia terbebas dari persaingan yang ketat. Karyawan model ini patut diwaspadai karena ialah badai sebelum badai yang sebenarnya terjadi.

Di luar itu, biasanya, ada segolongan karyawan yang tetap tenang. Mereka memilih diam, tetap bekerja, sambil menunggu apa yang akan terjadi. Mereka tidak khawatir akan ancaman, sekaligus tidak gelisah jika ancaman itu jadi kenyataan.

Sebagai pimpinan, apa yang harus anda lakukan? Tepat! Tentu, seorang pemimpin wajib memastikan laju perusahaan tetap tenang menuju tujuan. Bagaimana caranya?

Pertama, tunjukkan keteladanan. Jangan banyak bicara. Jangan pula berlebihan menasihati. Dalam situasi yang tidak pasti, omongan pemimpin akan dianggap sama dengan omongan dari luar. Ya, dianggap sama-sama tidak pasti. Belum lagi omongan itu beradu dengan omongan dari dalam diri (self talk) yang membimbangkan. Satu-satunya cara menasihati adalah dengan menunjukkan bahwa anda sendiri bersikap optimistis.

Kedua, tunjukkan data. Ingat, optimisme saja tidak cukup. Karyawan sekarang juga tahu peta. Mereka tahu di mana bisnis perusahaannya berada. Tunjukkan data kepada mereka mengapa optimistisme itu ada. Tunjukkan petanya bagaimana bisnis serupa di tempat lain bisa selamat dari gelombang disrupsi.

Ketiga, sodori peta kerja. Setelah tahu posisi, ajak karyawan duduk bersama merancang dan menjalankan rencana bisnis ke depan. Ajak mereka menatap ke depan. Jangan berkutat pada hari ini. Juga jangan terbayang-bayangi kehebatan masa lalu. Tunjukkan bahwa ada jalan untuk menunggangi bahkan memenangi gelombang disrupsi.

Jika anda ingin tahu bagaimana persisnya memotivasi para karyawan di era disrupsi, anda bisa undang Trainer Motivasi Putera Lengkong sebagai “sparring partner” belajar dan pengembangan diri anda serta tim anda, dengan menghubungi 021-2932-1243 dan 0813-1009-2248, SEKARANG!

Salam Juara!

About Author

Putera Lengkong

Putera Lengkong adalah seorang Pembicara Seminar, Trainer, Coach, dan Motivator terkemuka di Indonesia. Expert membawakan topik SALES, LEADERSHIP, dan PENGEMBANGAN DIRI untuk ratusan klien NASIONAL dan MULTINASIONAL.

Silahkan tambahkan saya pada lingkaran pertemanan Anda dan jika menyukai artikel-artikel saya, silahkan +1, Share, Like, and Rate it.

<a href="https://plus.google.com/101611825522671223545?rel=author">Google+</a>

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *