Mendamaikan Kubu Pembaru dan Kubu Petahana

Motivator Juara | Mendamaikan Kubu Pembaru dan Kubu Petahana

Motivator Juara | Motivator Indonesia | Pembicara Seminar

Sahabat Juara,

Di dunia pendidikan, perumpamaan ini kerap jadi rujukan bagi mereka yang bersikap bahwa pendidikan mesti berangkat dari keunikan anak didik. Begini perumpamaannya: biarlah ikan menjadi ikan, tak perlu ia bisa memanjat seperti monyet; dan biarlah monyet menjadi monyet, tak perlu ia pintar menyelam seperti ikan.

Pesan dari dunia pendidikan itu kemudian sampai juga di dunia industri. Pesan yang bagus itu kemudian diterjemahkan begini: pekerjaan karyawan sesuai kemampuan dan minatnya. Dengan catatan lanjutan, jangan tempatkan karyawan di posisi yang dia tidak berbakat di sana.

Tentang pandangan ini, sikap terbelah. Ada yang setuju, tak sedikit yang menolak. Bagi yang setuju, perlakuan seperti ini tepat. Mereka bilang, setiap orang punya kemampuan yang sudah melekat. Optimalkan saja kemampuan itu niscaya orang tersebut akan menjadi ahli.

Sedangkan mereka yang menolak punya argumentasi yang tak kalah kuat. Mereka berpendapat, jika orang hanya bekerja sesuai dengan kemampuannya secara terus menerus maka ia kehilangan kesempatan untuk maju. Padahal, syarat untuk menjadi orang maju adalah berani melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan untuk mencapai hasil luar biasa.

Terhadap dua pandangan ini, bagaimana sikap saya? Apakah saya mendukung salah satunya?

Sebelum saya sampaikan sikap saya, saya mau sampaikan bahwa, menariknya, kedua “kubu” datang kepada saya, baik supaya saya memberikan seminar motivasi maupun hadir sebagai coach bagi tim mereka. Masing-masing kubu minta saya supaya memotivasi mereka sesuai dengan orientasi mereka. Mereka minta ditegaskan bahwa pendapat mereka benar.

Sebagai Motivator Juara, semua permintaan itu saya setujui. Entah pandangan mana yang benar, dan nanti saya dukung, permintaan yang diajukan secara serius wajib saya tanggapi secara serius. Itu artinya masing-masing punya pendirian yang teguh akan sikapnya. Pendirian yang teguh, sebagai sikap, dapat diartikan sebagai sikap yang potisif. Yang kemudian perlu diteliti adalah intensinya. Jika sudah ketemu, tinggal mengantarkan mereka ke tujuan yang dimaui.

Terhadap mereka yang bersikeras yakin bahwa mereka hanya mau dan tepat mengerjakan “yang begitu-begitu saja”, saya masuki dengan pertanyaan kritis, “Kalau pun anda melakukan hal yang sama berulang-ulang, apakah anda bisa maju jika semangat anda selalu sama?” Umumnya pertanyaan ini membuat mereka mikir. Yang boleh sama itu kecakapannya atau semangatnya?

Sedangkan terhadap mereka yang bersikukuh bahwa untuk maju harus melakukan sesuatu yang selalu baru, saya pun mengusik mereka dengan pertanyaan, “Jika selalu baru, bagaimana dengan keahlian lama yang sudah anda kuasai? Bolehkah dibuang atau ditinggalkan begitu saja? Apakah setiap keahlian atau pengetahuan yang lama selalu buruk?”

Begitulah sikap saya. Untuk sampai pada sikap setuju atau menolak, saya mengajak siapa pun yang datang kepada saya untuk melihat segala sesuatu dari beberapa aspek. Aspek yang paling mendasar adalah positif-negatif. Yakni, bahwa setiap hal ada sisi positif sekaligus negatifnya. Bersikukuh dengan sikap dan kecakapan lama itu baik sekaligus buruk, demikian juga selalu mencari dan mengerjakan kecakapan baru bisa baik sekaligus buruk. Sebaiknya siapa pun cukup rendah hati untuk menimbang-nimbang supaya keputusan apa pun tidak diambil semata secara ekstrem. Ada titik tengah yang bisa dikompromikan.

Toh, mereka yang bertahan dengan kecakapan lama bisa diteguhkan bahwa sikap mereka menunjukkan komitmen yang kuat terhadap sesuatu. Jika komitmen tersebut potitif, maka tinggal ditegaskan dan dibesarkan.

Demikian pula mereka yang berkeyakinan bahwa sukses hanya bisa dicapai dengan cara-cara baru, dukung mereka sebagai orang yang kreatif dan inovatif. Undang mereka untuk menjadi sosok yang menginspirasi tim dan organisasi.

Nah, bukankah dalam tim dan organisasi komitmen, kreativitas, dan inovatif itu sangat dibutuhkan? Artinya, sejatinya kedua “kubu” bisa disandingkan bahkan dikompakkan sebagai satu tim yang saling mengisi dan menguatkan, kan?

Untuk mengundang Motivator Juara Putera Lengkong sebagai “sparring partner” belajar dan pengembangan diri anda serta tim anda, adan dapat menghubungi 021-2932-1243 dan 0813-1009-2248, SEKARANG!

Salam Juara!

About Author

Putera Lengkong

Putera Lengkong adalah seorang Pembicara Seminar, Trainer, Coach, dan Motivator terkemuka di Indonesia. Expert membawakan topik SALES, LEADERSHIP, dan PENGEMBANGAN DIRI untuk ratusan klien NASIONAL dan MULTINASIONAL.

Silahkan tambahkan saya pada lingkaran pertemanan Anda dan jika menyukai artikel-artikel saya, silahkan +1, Share, Like, and Rate it.

<a href="https://plus.google.com/101611825522671223545?rel=author">Google+</a>

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *