Rahasia Emas Ganda Campuran Indonesia

Ganda Campuran Indonesia Juara Olimpiade 2016

SELAMAT kepada Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad, pasangan ganda campuran Indonesia, yang telah menghadiahkan emas Olimpiade pas di hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 (lebih tepatnya di penghujung pergantian malam yaitu pada pukul 23.56 WIB).

Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena ridho-Nya yang masih memperbolehkan pasangan Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad menambah medali emas Olimpiade ke dalam deretan gelar prestisenya setelah paceklik gelar sejak 2015.

Terima kasih kepada seluruh pelatih, pengurus, dan tim support PB PBSI, teman-teman atlet, serta seluruh masyarakat Indonesia untuk dukungan dan doanya sehingga pasangan ganda campuran Indonesia ini bisa kembali menjaga tradisi emas bulutangkis di ajang olahraga tertinggi dunia.

Awal Pertemuan

Sejak 2009 ketika diperkenalkan pertama kali dengan Butet (panggilan akrab Liliyana), saya menawarkan sesi Motivasi untuk membantu meningkatkan performa Butet yang kala itu masih berpasangan dengan Nova Widianto. Maklum waktu itu baru saja mendalami Neuro-Linguistic Programming (NLP) dan Hypnotherapy, jadi mencari “calon klien” agar bisa mempraktekkan ilmu yang baru saja dipelajari.

Namanya juga pemula dalam bidang pengembangan diri, tentu saja ilmu dan keterampilannya belumlah mumpuni. Masih mencari pola agar bisa menyampaikan sebuah pesan dengan cara yang efektif. Masih sangat terpaku pada hafalan textbook sehingga terkesan grogi, cemas, dan pastinya tidak profesional. Respon Liliyana pada saat itu pun belum terlalu positif.

Hingga pertengahan tahun 2011, Nova Widianto resmi digantikan oleh Tontowi Ahmad yang menjadi partner baru Liliyana Natsir. Saat itu dengan penuh percaya diri saya coba mendekati dan memulai kembali program Motivasi kepada pasangan Butet dan Owik (panggilan akrab Tontowi). Dengan merumuskan 9 Prinsip Kesuksesan Para Juara, saya membantu pasangan ganda campuran Indonesia ini meraih gelar Juara All England 2012 (gelar Juara yang dinanti setelah 33 tahun vakum, terakhir kali diraih oleh Christian Hadinata dan Imelda Wiguna). Prinsip-prinsip kesuksesan tersebut saya tuangkan dalam Buku “9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara” yang menjadi best-seller di bulan kedua penjualannya.

Orang bilang menjadi Juara 1x itu keberuntungan, maka saya menantang mereka untuk menjadi Juara ke-2 kalinya pada tahun 2013. Dan mereka menjawab tantangan tersebut. Prestasi ini membungkam mulut orang-orang yang memandang remeh pasangan baru ganda campuran Indonesia ini (mereka dipasangkan belum genap setahun). Lalu sekali lagi pada tahun 2014 mereka mencatatkan rekor prestasi menjadi hattrick di ajang pertandingan bergengsi All England. Sejak itulah saya mulai dikenal sebagai Motivator Sang Juara.

Seperti umumnya para Juara yang telah mencapai prestasi puncak, ada kebanggaan, rasa puas diri, merasa nyaman; demikian pula setelah All England 2014, prestasi Liliyana dan Tontowi mulai stagnan. Mereka mulai puasa gelar selama hampir 2 tahun. Sayapun mulai abai terhadap mereka berdua dikarenakan kesibukan di berbagai program pelatihan korporasi.

Sempat beberapa kali berusaha bertemu dengan para coachee tetapi Butet mengingatkan bahwa pasangannya, Owik agak resistan untuk menerima nasehat-nasehat apalagi pesan-pesan yang teoritis membuat saya membatalkan niat untuk bertemu mereka berdua. Apalagi tidak ada kejuaraan prestise selain Super Series yang rutin setiap tahun sehingga saya tidak terlalu fokus dan meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka.

Strategi Juara

Pertengahan 2016, saya teringat bahwa kemungkinan ini akan menjadi Olimpiade yang terakhir bagi Liliyana Natsir (mengingat faktor usia) sehingga saya berinisiatif mengajak bertemu kembali dengan pasangan Juara ini. Sambil memutar otak mencari cara bagaimana bisa memotivasi kembali kedua pasangan Juara ini lewat pendekatan strategi lain yang lebih efektif dan tepat sasaran. Padahal ilmunya ada di depan mata dan sudah saya kuasai. Namanya strategi Coaching.

Coaching berbeda dengan Training, Mentoring, Counseling, Consulting. Empat istilah yang saya sebutkan terakhir bersifat lebih memberitahu, menasehati, mengajarkan antara pengajar dan yang diajar. Sedangkan Coaching menurut definisi ICF (International Coach Federation) adalah kemitraan antara Coach dan Coachee (klien) dalam proses kreatif dan menantang proses berpikir untuk mengilhami coachee memaksimalkan potensi personal dan profesionalnya. Saya tidak mengajarkan mereka tetapi menantang mereka untuk memikirkan sendiri bagaimana cara terbaik untuk mencapai potensi puncak mereka. Tontowi merasa lebih dilibatkan sehingga tidak lagi merasa bahwa ini adalah sekedar nasehat-nasehat teoritis. Dia mulai berinisiatif mengambil tanggung jawab sebagai pelaku untuk mengendalikan pikiran dan tubuhnya.

Berikut adalah gambaran sesi Coaching 3 hari sebelum keberangkatan mereka ke Brasil:

  1. Alasan

Apa alasan kuat mereka harus menjadi Juara? Mengapa harus di event ini? Mengapa mereka harus berusaha dan berlatih lebih keras?

Jawaban-jawaban tersebut adalah sebagai motivasi internal bagi mereka. Kalau mereka memiliki alasannya yang kuat maka mereka akan bergerak dan berjuang untuk mencapainya. Ini berkaitan dengan penting atau tidaknya tujuan mereka tersebut. Juga berkaitan dengan mendesak atau tidaknya untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika tujuan ini penting dan mendesak maka mereka akan berjuang mati-matian untuk mencapainya.

Sebaliknya, alasan yang tidak kuat tidak akan memotivasi mereka untuk bergerak. Alasan yang tidak mendesak membuat mereka bisa menunda dan melakukannya di lain kesempatan. Alasan yang tidak penting membuat mereka tidak menempatkan tujuan tersebut sebagai prioritas yang utama. Alhasil dorongan internal tidak akan menggerakkan mereka jika sesuatu alasan tersebut tidak lagi penting dan mendesak.

Mark Spitz, Michael Phelps, Joseph Schooling, Richard Sam Bera adalah segelintir dari deretan nama-nama Juara di kolam renang yang terus memacu dan memotivasi diri untuk melampaui limit karena mempunyai alasan sukses yang sangat kuat.

  1. Visualisasi

Benda di dunia diciptakan 2x. Pertama kali dalam alam pikiran dan yang kedua baru diwujudkan atau direalisasikan. Dengan melakukan visualisasi berarti membiasakan di pikiran mereka bagaimana yang namanya kemenangan itu, bagaimana strategi menghadapi lawan yang berat, bagaimana mencari jalan keluar ketika pukulan salah terus-menerus, dan lain sebagainya. Dengan melakukan ini, mereka membangun koneksi yang kuat antara synaps di saraf mereka agar gerakan-gerakan mereka semakin terlatih, terkoordinasi, dan alami.

Dengan membiasakan mengulang-ulang skenario yang mungkin terjadi maka mereka menjadi lebih siap. Mereka merasa lebih nyaman, ketika merasa nyaman mereka akan lebih santai (tidak terbebani, tidak merasa tertekan) ketika bermain. Bandingkan saja mana yang lebih menenangkan Anda: pergi ke tempat yang belum pernah Anda kunjungi sama sekali ataukah mengunjungi tempat yang sudah sering Anda datangi? Tentu saja yang kedua bukan! Nah fungsi visualisasi adalah untuk membiasakan mereka dengan skenario-skenario tersebut.

Teori MestaKung (Semesta Mendukung) oleh Prof. Yohanes Surya menyatakan bahwa ketika Anda mengirimkan vibrasi ke alam semesta maka alam semesta akan merespon balik dengan vibrasi sejenis. Ketika suatu individu berada pada situasi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan, dan segala sesuatu di sekitar dia) akan mendukung dia untuk keluar dari kondisi kritis tersebut asalkan (i) punya tujuan yang penting dan mendesak, (ii) melangkah dengan membuat strategi yang fleksibel untuk mencapai tujuan tersebut, (iii) tekun, berkomitmen, serta disiplin dalam melakukan strategi yang telah dibuat, serta (iv) memiliki faktor spiritual (iman kepada Yang Maha Kuasa).

  1. Fokus

Fokus membantu Anda untuk mengabaikan hal-hal lain yang kurang relevan. Hal-hal tersebut ada di sana tetapi tidak Anda perhatikan lagi. Karena ketika Anda fokus pada suatu hal, Anda akan mengabaikan hal lainnya. Misalnya ketika Anda fokus pada logika maka Anda mulai mengabaikan perasaan. Sebaliknya ketika Anda fokus pada perasaan maka Anda mulai mengabaikan logika. Demikian pula ketika Anda menyukai seseorang maka Anda akan mengabaikan hal-hal yang kurang baik tentang dirinya. Dan ini berlaku sebaliknya.

Fokus yang dimaksud di sini adalah fokus pada perolehan angka demi angka, poin demi poin bukan pada hasil akhir. Ketika fokus pada perolehan poin demi poin secara optimal maka niscaya hasil akhirnya juga akan optimal. Bukankah ratusan langkah dimulai dari 1 langkah pertama seperti pada prinsip Mestakung di atas. Kalau Anda langsung fokus pada ratusan langkah, rasanya sangat berat tetapi ketika Anda fokus pada 1 langkah pertama, lalu 1 langkah berikut, lalu 1 lagi langkah berikutnya maka ini akan lebih menggerakkan dan memotivasi Anda termasuk lebih fokus pada sesuatu hal yang lebih mudah untuk dicapai atau dilakukan.

Demikian pula pasangan ganda campuran Indonesia ini melatih diri untuk mengabaikan hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi mereka, misalnya teriakan riuh suporter, bahasa tubuh lawan yang agresif, ataupun suasana stadium yang tidak mendukung. Bahkan diberitakan Owik tidak sadar ketika sudah menang karena sangat fokus pada perolehan poin demi poin. Memang dalam pertandingan ini mereka terlihat sangat fokus dan konsisten. Pasangan ganda campuran Indonesia ini mampu mencatatkan kemenangan dengan straight-set secara konsisten sejak babak awal dan konsisten menang (tanpa kalah sekalipun) di babak penyisihan. Prestasi yang sangat luar biasa!

  1. Pikiran dan tubuh adalah 1 sistem

Pikiran bisa mempengaruhi tubuh misalnya ketika Anda berpikiran bahwa lawan lebih kuat atau superior maka tubuh akan merespon, misalnya tubuh cenderung menunduk (merasa inferior), keluar keringat dingin, asam lambung meningkat, merasa mual, mules, dan lain sebagainya. Padahal reaksi tubuh ini muncul disebabkan oleh sesuatu yang belum pasti yang Anda munculkan dan persepsikan dalam pikiran Anda. Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad belajar bagaimana cara mengontrol dan mengelola pikiran mereka sehingga pikiran dan tubuh sama-sama konsisten saling mendukung untuk menang.

Sebaliknya tubuh bisa mempengaruhi pikiran. Misal ketika mulut Anda manyun, tangan dilipat di dada, posisi tubuh membungkuk maka Anda akan kesulitan untuk memunculkan gambar-gambar yang menyenangkan dan membahagiakan tetapi mudah untuk memunculkan gambar-gambar yang melankolis atau mengharubiru.

Ketika Anda membuat pose superior maka tubuh akan mengirimkan sinyal ke otak untuk mengeluarkan hormon testoteron yang menstimulasi Anda untuk menjadi lebih percaya diri (hasil penelitian oleh Amy Cuddy, seorang Associate Professor di Harvard Business School pada tahun 2012). Sebaliknya pose inferior menaikkan kadar hormon kortisol (hormon stres) dan menurunkan kadar hormon testoteron. Pose superior dapat Anda tonton kembali pada pasangan Juara ganda campuran Indonesia, mereka terlihat lebih percaya diri, dada membusung, sorot mata yang menatap tajam. Sebaliknya, lawan mereka pasangan Malaysia, Peng Soon – Goh Liu Ying, terlihat lebih inferior, grogi, dan kikuk.

Secara fisik dan skills mereka sudah di atas rata-rata, mereka sudah sangat siap lewat porsi latihan-latihan yang diberikan oleh Pelatih Richard Mainaky dan Nova Widianto. Lewat sesi Coaching, mereka juga sudah melengkapi diri dengan pengetahuan untuk mengatur serta mengelola pikiran dan tubuh agar bisa meningkatkan dan menjaga performa puncak. Mereka telah melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan dan sisanya mereka pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Mereka membiarkan tangan Tuhan bekerja.

Yang Anda peroleh adalah yang Anda percayai!

Dan hasilnya adalah Emas Olimpiade yang dipersembahkan untuk Indonesia. Gelar ini adalah gelar ketujuh sepanjang sejarah Olimpiade dilangsungkan dan merupakan gelar pertama di kategori ganda campuran Indonesia. Piala ini menyandingkan Butet dan Owik bersama deretan para Juara Emas Olimpiade lainnya, seperti: Alan Budikusuma, Susi Susanti, Rexy Mainaky – Ricky Subagja, Tony Gunawan – Candra Wijaya, Taufik Hidayat, dan Markis Kido – Hendra Setiawan.

Para Juara percaya bahwa mereka mampu menjadi Juara. Mereka mulai berpikiran seperti seorang Juara, memiliki mindset seorang Juara, berperilaku serta bertindak seperti seorang Juara. Dan apa yang mereka raih adalah apa yang mereka yakini tentang diri mereka!

Semoga kisah pasangan ganda campuran Indonesia di atas bisa menginspirasi kita semua untuk terus berjuang dengan penuh disiplin dan komitmen dalam mencapai impian-impian kita. Berpikir bisa atau tidak bisa, dua-duanya benar menurut Henry Ford. Jadi mana yang mau Anda pilih untuk percayai dalam mencapai impian Anda?

SUKSES selalu! Salam JUARA!

Putera Lengkong, MBA adalah (mindset) personal coach dari Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad

http://PuteraLengkong.net