Sales | 5 Prinsip Penjual yang Diadopsi Calon Gubernur DKI Jakarta

Motivator Indoneseia | Motivasi | Trainer Sales | Sales

Sahabat JUARA,

Jakarta sedang hangat pekan ini. Satu peristiwa politik penghangatnya: pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Ada tiga pasang yang diusung oleh koalisi partai politik: Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni.

Sabar. Saya tidak sedang mau berbicara politik. Meski begitu, saya berpendapat, boleh tidak suka politik namun tidak boleh abai begitu saja. Sederhana saja alasannya: kehidupan kita, baik pribadi maupun bisnis, sangat dipengaruhi oleh kebijakan politik. Maka, memperhatikan dinamika politik, dan secara khusus bagaimana proses pemilihan pemimpin politik, adalah sesuatu yang baik supaya kita benar-benar mendapatkan pemimpin yang baik dan adil bagi semua.

Nah, perhatian saya pada politik kali ini tertuju pada hubungan politik dan salesmanship. Nah, baru tertarik ya kalau saya bicara tentang penjualan? Hahaha…

Dari proses politik pemilihan pasangan calon gubernur dan calon gubernur, saya melihat korelasi yang bagus sebagai pembelajaran bagi Anda yang berprofesi sebagai sales dan menekuni pekerjaan-pekerjaan penjualan. Ada beberapa prinsip penjualan yang saya temukan dalam peristiwa politik ini:

  1. Pastikan Produk Terbaik

Mari sebentar kita tengok. Sebelum partai-partai politik mengumumkan pasangan calon yang akan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, media-media gencar memberitakan betapa alotnya proses penjaringan di internal masing-masing partai politik. Tiap kali kita disuguhi spekulasi nama-nama. Baru di detik-detik akhir menjelang masa penutupan pendaftaran, nama-nama definitif muncul. Publik pun lega. Bahkan, komentar yang beredar di media sosial, “Ini pilkada rasa pilpres.” Ya, karena bukan hanya warga Jakarta yang tersedot perhatiannya. Pilkada Jakarta juga menyedot perhatian warga non-Jakarta, seperti saya. Wajar, sebagian besar roda bisnis Indonesia digerakkan dari Jakarta. Sebagian besar perputaran ekonomi nasional pun di Jakarta.

Saya sependapat dengan komentar beberapa sahabat. “Pasangan-pasangan calon yang diajukan partai-partai itu adalah orang-orang terbaik.” Lepas dari kriteria politik, saya meyakini, setiap partai pasti mengajukan calon terbaik. Dan mereka menyaringnya dengan sungguh-sungguh.

Sebagai penjual, sudahkah Anda memastikan bahwa produk yang Anda jual adalah produk terbaik untuk pelanggan? Sudahkah produk Anda melewati proses pengontrolan kualitas sebelum diluncurkan ke pasar? Pastikan: untuk pelanggan berikan yang terbaik!

  1. Fokus pada Keunggulan

Ada foto yang beredar: tiga pasang cagub-cawagub berselfie di sela pemeriksaan kesehatan. Mereka menebar senyum ke arah kamera. Foto ini jadi viral. Publik merasa ini awal yang baik: berkompetisi tanpa perlu saling memusuhi. Para calon menunjukkan teladan yang baik. Ada rasa kebersamaan. Mereka pun sepakat untuk nantinya berkampanye dengan mengunggulkan program. Mereka sepakat tidak melakukan kampanye hitam yang bertujuan menjatuhkan lawan.

Sebagai penjual, kita melihat ini contoh yang baik. Setelah memastikan bahwa produk yang akan kita tawarkan kepada pelanggan adalah produk terbaik, mulai dari PIKIRAN, kita harus FOKUS PADA KEUNGGULAN. Kita harus tahu betul apa benefit yang bakal diperoleh pelanggan dari produk kita. Pastikan bahwa benefit itu TAMPAK dan TERUKUR. Tunjukkan dengan angka atau persentase lebih baik.

Apakah boleh membandingkan dengan kompetitor? Tentu boleh. Yang tidak saya sarankan, sebagaimana kita juga mencontoh dari para cagub-cawagub, adalah menjelek-jelekkan pesaing. Tidak perlu. Selain menimbulkan penolakan dari pelanggan, menjelek-jelekkan justru menggiring pelanggan untuk fokus pada pesaing. Anda sendiri yang rugi, kan?

  1. Kemas Optimal

Produk yang baik saja tidak cukup dijual begitu saja. Harus dikemas sedemikian. Dari peristiwa politik di atas: ada yang kemudian berbalut baju kotak-kotak, ada yang kemudian mengalungkan sarung, ada yang mencopot baju dinas militer dan PNS. Secara tampilan, mereka mengemas dengan bungkus tertentu supaya TAMPAK menonjol.

Itu baru dari sisi fisik. Padahal, pelanggan tak sekadar membeli bungkus. Mereka membeli isinya. Maka, isi cagub-cawagub juga dikemas sedemikian. Ada yang fokus pada program-program pengetasan kemiskinan, ada yang fokus di perbaikan perekonomian, ada yang fokus di tata kelola pemerintahan.

Sebagai penjual, bagaimana anda mengemas isi dan bungkus jualan Anda? sudahkah keunggulan yang ada pada produk Anda dikemas sedemikian menarik dan apik?

  1. Gembleng Tim Militan

Selain diusung oleh partai politik, setelah mereka didaftarkan, cagub-cawagub itu tidak bekerja sendirian. Mereka bekerja bersama “TIM SUKSES”. Tim ini terdiri dari perwakilan partai pengusung, tim profesional dari luar, dan relawan. Umumnya begitu. Meski berasal dari latar yang berbeda-beda, ketika menjadi tim sukses, mereka harus melebur: satu semangat, satu gaya, satu tujuan.

Kerja mereka tidak ringan. Mereka harus cepat-cepat mengenali calon yang bakal dijualnya ke pemilih. Mereka harus segera tahu keunggulan calon. Mereka harus memahami siapa target pemilih yang bakal dirangkul. Mereka juga harus cermat memetakan persaingan dengan calon sebelah. Mereka harus menyiapkan alat-alat kampanye. Mereka harus menghimpun dana untuk kampanye. Mereka harus piawai berkomunikasi lewat media. Mereka harus… ah, banyak sekali pekerjaan mereka.

Maka, selain militan, mereka harus kompak. Militan berarti berorientasi pada GOAL. Jalan apa pun, meskipun sulit, harus mereka tempuh. Kerja 24 jam harus siap, apalagi waktu yang tersedia sampai awal 2017 nanti tinggal beberapa bulan saja. Kompak berarti selangkah-seirama bersama tim yang berasal dari kelompok lain yang langkah dan iramanya berbeda. Jika ada tim yang bergerak lambat harus segera memecut, jika ada yang menyimpang harus segera menarik ke dalam, dan jika ada yang bergerak sendiri harus berani mengeluarkan.

Nah, sudahkah sebagai penjual atau Sales Anda membangun tim militan? Sudahkah tim Anda memahami tugas masing-masing? Sudahkah tim Anda memahami bahwa bekerja sama tak berarti ke mana-mana harus bersama-sama? Sudahkah tim Anda bersedia meletakkan ego masing-masing demi kemenangan bersama?

  1. Komunikasi Persuasif

Segera setelah mendaftarkan pasangan cagub-cawagub, lihat saja, tim sukses yang sudah terbentuk secara cepat mengabarkan kepada publik siapa jagoan mereka. Tak cukup itu. Mereka bergegas mengemas komunikasi yang menarik semua konstituen dengan fokus agar mereka memilih jagoan yang mereka sodorkan. Daftar keunggulan calon harus dirumuskan secara singkat, lugas, dan menarik supaya masyarakat sampai pada aksi memilih pasangan mereka.

Semua media pasti dimanfaatkan. Media utama seperti televisi, radio, dan media cetak pasti akan mereka isi dengan pemberitaan dan iklan. Media sosial pun segera dikendalikan oleh buzzer secara massif.

Dari ketiga pasang calon, sejatinya, kita boleh sebut mereka sudah dikenal oleh masyarakat. Kenapa harus tetap dikomunikasikan? Ya, karena masyarakat tidak cukup hanya tahu dan kenal. Mereka harus sampai ke fase memilih dan mencoblos. Maka, dibutuhkan komunikasi yang tidak biasa, melainkan persuasif, supaya masyarakat sampai kepada tindakan yang dibutuhkan: memercayakan suaranya!

Sebagai penjual atau seorang Sales, sudahkah Anda mengemas komunikasi yang persuasif untuk memikat pelanggan anda. Ingat, produk yang bagus tetap perlu dikabarkan kebagusannya supaya pelanggan makin meyakini bahwa produk Anda bagus. Lebih dari itu, dengan komunikasi yang persuasif, pelanggan perlu dibimbing untuk hanya membeli produk yang Anda jual.

Untuk mengundang Motivator Putera Lengkong sebagai Pembicara Training Sales di perusahaan Anda, silahkan hubungi 021 2932 1243 atau 0813 1009 2248

Salam JUARA!