Walau Sempat Berhenti, Pemimpin Sejati Menyelesaikan

Leadership | Walau Sempat Berhenti, Pemimpin Sejati Menyelesaikan

Leadership | Mark Zuckerberg | Motivator Indonesia | Trainer LeadershipNetizen kembali dihibur dengan berita ringan yang mencuri perhatian. Saya sebut ringan karena peristiwa yang diberitakan itu jika ditayangkan di media akan menempati rubrik advertorial “kabar kampus”. Apa pentingnya seremoni kelulusan pada suatu perguruan tinggi? Biasa saja, kan? Setiap kampus yang menerima mahasiswa pasti pada saatnya meluluskan. Justru aneh dan layak jadi berita besar jika ada kampus yang menerima mahasiswa tak pernah meluluskan.

Lalu, apa yang menjadikan berita ringan ini mencuri perhatian? Karena peristiwa ini memenuhi salah satu adagium dalam ilmu jurnalistik: orang besar dalam peristiwa kecil. Mark Zuckerberg diwisuda. Peristiwa kecil, bukan? Meski Harvard University adalah perguruan tinggi terkemuka, namun, sekali lagi, gelaran wisuda adalah peristiwa biasa di kampus itu.

Beda kali ini. Wisuda Harvard University menjadi berita karena ada orang besar di deretan wisudawannya. Adalah Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang 2005 lalu memutuskan hengkang dari kampus demi membangun bisnis “menghubungkan orang”, Kamis (25/5) pekan lalu kembali ke kampus sebagai wisudawan. Meski gelar yang disandangnya adalah HC (honoris causa), alias gelar kehormatan, wisuda ini tetap menjadi penting dalam kerangka “apa yang dimulai harus diselesaikan”. Zuckerberg kembali ke kampus dan mengenakan toga seraya menyatakan kepada orang tuanya bahwa seperti janjinya ia akan kembali ke Harvard.

Sahabat Juara,

Peristiwa wisuda Zuckerberg ini sangat penting kita letakkan dalam bingkai pembicaraan tentang kepemimpinan (Leadership). Saya mencatat beberapa hal yang layak kita simak:

#1 Selesaikan yang Sudah Dimulai

Seperti saya sampaikan tadi, Zuckerberg sudah memulai, yakni masuk kuliah. Kini ia menyelesaikan, yakni wisuda. Pada waktu memutuskan untuk keluar dari kuliah, ia sedang memulai bisnis Facebook. Ia pun menyelesaikan bisnis itu dengan membesarkannya, dan tak menjualnya seperti desakan teman-temannya. Ia menyelesaikan dengan menjadikannya besar.

Bukankah demikian tugas terutama pemimpin? Pemimpin wajib memiliki keberanian untuk memulai walau—seperti kata Zuckerberg—setelah itu ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Di sini pemimpin diuji. Bahwa ia menjadi pemimpin bukan karena tahu apa yang akan terjadi, melainkan menjadikannya terjadi supaya orang tahu kenapa dia dulu memulai. Dan menjadikan terjadi berarti menyelesaikannya.

#2 Berpikir Besar dan Mengerjakannya

Awalnya, Zuckerberg hanya berpikir bagaimana menghubungkan mahasiswa se-Harvard. Selanjutnya, ia berpikir, biarlah orang lain yang akan memperluasnya. Namun kenyataan berbicara lain. Ia sendiri yang harus memperluasnya. Facebook kemudian mendunia dan menjadi penghubung orang sejagad raya. Maka, pesan Zuckerberg: berpikirlah besar dan jadilah pelaku yang menjadikan pikiran besar itu kenyataan. Bukan menunggu orang lain melakukannya.

Demikian juga dalam kepemimpinan, bukan? Pemimpin besar selalu seorang inisiator sekaligus eksekutor. Tak cukup dengan ide seseorang menjadi pemimpin. Tanpa mengeksekusi ide itu, orang lainlah yang akan dikenal sebagai pemilik ide itu—karena dia yang mewujudkannya.

#3 Tekuni Proses, Rayakan Hasilnya

Ketika Zuckerberg berpidato di acara wisudanya, itu terjadi 12 tahun sejak ia memutuskan meninggalkan kampus untuk memulai Facebook. Artinya, tepuk tangan orang padanya menempuh waktu tunggu yang amat lama. Selama waktu tunggu itu ia berjibaku dalam peluh mewujudkan apa yang ia pikirkan—dan tepuk tangan bisa jadi jauh dari bayangan. Bahkan, seperti ia kisahkan, timnya sempat berantakan gara-gara tak semua memahami misi besarnya. Sebagian memisahkan diri karena pendapat mereka untuk menjual perusahaan ditolak.

Kepemimpinan juga demikian, bukan proses yang instan. Kepemimpinan adalah perjalanan menuju tujuan. Tujuan itu jelas, namun perjalanan tak selalu sejelas tujuan. Dan justru dalam ketidakjelasan inilah tugas pemimpin untuk memperjelasnya. Kelak, setelah selesai, jelas pemimpin ini yang layak merayakannya.

#4 Sukses Itu Berakar dari Masalah Berujung Masalah

Bahkan, dalam perjalanan, Zuckerberg berkubang dengan banyak masalah. Selepas dari meninggalkan bangku kuliah, sebelum akhirnya sukses dengan Facebook, ia jatuh gagal ketika membuat game, aplikasi chat, hingga pemutar musik. Dunia bertepuk tangan untuk Facebooknya, tidak untuk deretan kegagalannya.

Kepemimpinan juga demikian. Kelak, pemimpin hanya diakui atas keberhasilannya, baik keberhasilan mencapai puncak maupun keberhasilan melampaui lembah; baik keberhasilan menghadapi masalah maupun keberhasilannya menemukan solusi. Selesai sampai di situ? Tentu tidak. Di dunia yang ketat dengan kompetisi ini, saat sudah berhasil sekali pun, pemimpin tetap dihadapkan dengan masalah baru, yakni melaju lebih cepat supaya tidak dilibas kompetitor.

#5 Bantu, Tak Selalu dengan Uang

Zuckerberg dikenal bukan saja karena Facebook menjadi perusahaan besar yang bergelimang untung. Lebih dari itu, ia dikenal karena kesediaannya berbagi. Hidupnya selaras dengan bisnisnya. Facebook adalah jejaring pertemanan yang menyediakan ruang luas untuk berbagi, Zuckerberg sendiri juga mencontohkannya. Ia banyak berbagi kelas-kelas enterpreneurship. Ia mengajar untuk star-up business.

Begitulah hakekat kepemimpinan: berbagi. Dalam berbagi, pemimpin sedang menjalankan transfer pengetahuan. Ia juga sedang menduplikasi sikap supaya rantai kepemimpinan berkelanjutan. Sebab, ukuran keberhasilan pemimpin juga ditakar dari keberhasilannya menciptakan pemimpin baru.

Pidato Zuckerberg di kampus yang dulu ditinggalkannya bermakna mendalam dalam konteks kepemimpinan (Leadership). Bukan saja kata-katanya bak mutiara yang layak dikutip, melainkan kehadirannya sendiri “menyelesaikan apa yang sudah dimulai” itu mutiara yang sesungguhnya.

Untuk mengundang Motivator Leadership Putera Lengkong sebagai “sparring partner” belajar dan pengembangan diri anda serta tim anda, anda dapat menghubungi 021-2932-1243 dan 0813-1009-2248, SEKARANG!

Salam Juara!

About Author

Putera Lengkong

Putera Lengkong adalah seorang Pembicara Seminar, Trainer, Coach, dan Motivator terkemuka di Indonesia. Expert membawakan topik SALES, LEADERSHIP, dan PENGEMBANGAN DIRI untuk ratusan klien NASIONAL dan MULTINASIONAL.

Silahkan tambahkan saya pada lingkaran pertemanan Anda dan jika menyukai artikel-artikel saya, silahkan +1, Share, Like, and Rate it.

<a href="https://plus.google.com/101611825522671223545?rel=author">Google+</a>

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *